Harga minyak dunia kembali melonjak pada perdagangan Selasa atau Rabu waktu Jakarta seiring memudarnya optimisme terhadap kesepakatan damai antara United States dan Iran. Ketegangan geopolitik yang terus berlangsung memicu kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global, terutama terkait kondisi Strait of Hormuz.
Harga minyak mentah Brent tercatat naik 3,4 persen dan ditutup di level USD107,77 per barel. Sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Juni melonjak 4,2 persen menjadi USD102,18 per barel.
Kenaikan harga minyak dipicu pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menolak proposal balasan Iran terkait upaya penghentian konflik. Trump bahkan menyebut tawaran Teheran sebagai “sampah” dan menilai kondisi gencatan senjata berada dalam situasi kritis.
Situasi tersebut membuat pasar khawatir terhadap keberlangsungan distribusi minyak global, terutama jika Selat Hormuz tetap tertutup. Jalur tersebut merupakan salah satu rute utama perdagangan minyak dunia.
Sejumlah analis memperkirakan harga minyak masih akan bertahan tinggi hingga akhir 2026 bahkan berlanjut ke 2027 apabila ketegangan AS-Iran belum menemukan solusi. CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, menyebut pasar minyak membutuhkan waktu panjang untuk kembali normal meski Selat Hormuz nantinya dibuka kembali.
Sejak konflik yang melibatkan AS dan Israel terhadap Iran pecah pada akhir Februari 2026, harga minyak Brent dan WTI tercatat telah melonjak lebih dari 45 persen. Kondisi ini turut meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global dan tekanan ekonomi di berbagai negara.
Dikutip dari liputan6.com
