Hadapi Kemarau Ekstrem, Kementan Dorong Penguatan Irigasi dan Varietas Tahan Kekeringan

Hadapi Kemarau Ekstrem, Kementan Dorong Penguatan Irigasi dan Varietas Tahan Kekeringan

Kementerian Pertanian (Kementan) memperkuat berbagai langkah mitigasi untuk menghadapi musim kemarau yang berpotensi memengaruhi produksi pertanian dan ketahanan pangan nasional. Upaya ini dilakukan sebagai respons terhadap dampak perubahan iklim dan ancaman kemarau ekstrem yang diperkirakan terjadi pada tahun ini.

Penyuluh Pertanian Ahli Utama Pusat Penyuluhan Pertanian (Pusluhtan) Kementan, Prof. Dedi Nursyamsi, mengatakan sektor pertanian menjadi salah satu bidang yang paling rentan terhadap perubahan iklim karena sangat bergantung pada ketersediaan air. Oleh karena itu, langkah antisipasi perlu dilakukan sejak dini untuk meminimalkan risiko penurunan produksi pangan.

Menurut Dedi, penguatan sistem irigasi menjadi faktor utama dalam menjaga produktivitas pertanian selama musim kemarau. Setelah wilayah yang berisiko mengalami kekeringan teridentifikasi, pemerintah bersama daerah dan petani perlu memastikan ketersediaan sumber air alternatif guna mendukung kebutuhan tanaman.

Selain pengelolaan irigasi, Kementan juga mendorong penerapan teknologi konservasi air melalui penggunaan kompos dan biochar yang berasal dari biomassa sisa tanaman. Metode ini dinilai mampu menjaga kelembapan tanah sekaligus meningkatkan kemampuan tanaman dalam menyerap unsur hara secara optimal.

Dedi menegaskan keberhasilan menghadapi musim kemarau tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga memerlukan kolaborasi antara pemerintah daerah, penyuluh pertanian, dan petani dalam menerapkan efisiensi penggunaan air. Langkah tersebut penting untuk menjaga kondisi perakaran tanaman tetap lembap dan produktif.

Kementan juga mendorong penggunaan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan, seperti Inpago dan padi gogo hibrida. Dengan kombinasi penguatan irigasi, konservasi air, dan pemanfaatan varietas unggul, pemerintah optimistis produksi pangan nasional tetap terjaga meskipun menghadapi tantangan perubahan iklim dan musim kemarau yang semakin meluas di berbagai wilayah Indonesia.