Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengusulkan subsidi listrik dalam RAPBN 2027 sebesar Rp117,84 triliun. Angka tersebut naik dari subsidi listrik dalam APBN 2026 yang ditetapkan sebesar Rp100,83 triliun.
Usulan tersebut disampaikan Bahlil dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (31/8). Besaran subsidi didasarkan pada asumsi harga Indonesian Crude Price (ICP) sebesar US$75 per barel, nilai tukar Rp17.500 per dolar AS, serta inflasi 2,5 persen.
Bahlil menyebut kebutuhan subsidi berpotensi bertambah jika harga ICP naik hingga US$80 per barel atau rupiah mengalami tekanan. Hingga Juni 2026, realisasi subsidi listrik yang telah dibayarkan mencapai Rp46,36 triliun, sementara tagihan Juli sebesar Rp8,12 triliun masih dalam proses verifikasi.
Selain subsidi listrik, pemerintah juga mengusulkan kenaikan volume solar bersubsidi dari 18,64 juta kiloliter menjadi 19 juta kiloliter pada 2027. Volume minyak tanah bersubsidi turut dinaikkan menjadi 0,561 juta kiloliter, sedangkan kuota LPG 3 kilogram tetap 8 juta metrik ton dan subsidi solar tetap Rp1.000 per liter.
