Hujan yang mengguyur sejumlah wilayah Kalimantan selama dua hari terakhir mulai membantu mengurangi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Meski kualitas lingkungan berangsur membaik, sejumlah sekolah masih memantau kondisi udara sebelum kembali menerapkan kegiatan belajar mengajar secara normal.
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 9 Banjarbaru, Rifki Hakim, mengatakan kabut asap telah mengganggu aktivitas pembelajaran selama sekitar dua bulan. Asap yang menebal pada pagi hari juga berdampak terhadap kesehatan siswa, terutama mereka yang tinggal di asrama.
Setelah hujan turun, kondisi kabut asap di Banjarbaru mulai membaik. Pihak sekolah pun mempertimbangkan untuk mengembalikan jadwal belajar seperti semula apabila kondisi udara terus membaik. Sebelumnya, waktu masuk siswa diundur dari pukul 07.30 WITA menjadi pukul 09.00 WITA, sedangkan jam pulang dimajukan dari pukul 16.00 WITA menjadi pukul 15.00 WITA. Kegiatan luar ruangan juga dialihkan ke dalam ruangan untuk mengurangi paparan asap.
Gangguan serupa dialami SDN 5 Bukit Tunggal di Kota Palangka Raya. Kepala sekolah Musmarmadi menjelaskan bahwa paparan asap mulai dirasakan sejak awal Agustus 2026. Sekolah sempat menerapkan pembelajaran tatap muka terbatas sebelum beralih ke pembelajaran jarak jauh (PJJ) pada 28 Agustus 2026.
Selama PJJ, guru menggunakan Google Classroom, Zoom Meeting, dan WhatsApp untuk menyampaikan materi serta memberikan tugas. Siswa mengumpulkan tugas ke sekolah setiap dua hari sekali dengan bantuan orang tua. Sekolah juga berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan orang tua untuk menjaga semangat belajar serta memantau kesehatan siswa.
Meski hujan mulai mengurangi kabut asap di sejumlah wilayah Kalimantan, penyesuaian kegiatan pendidikan tetap mempertimbangkan kondisi lingkungan dan kesehatan siswa. Sekolah belum sepenuhnya kembali ke pola pembelajaran normal dan masih memantau perkembangan kualitas udara sebelum menentukan langkah selanjutnya.
Di sisi lain, BMKG disebut tengah menguji coba teknologi dry ice sebagai salah satu upaya untuk mengatasi kabut asap akibat karhutla. Namun, sekolah tetap mengandalkan pemantauan kondisi lingkungan dalam menentukan jadwal dan metode pembelajaran yang aman bagi para siswa.
