Di tengah perubahan besar industri digital global, pasar kini mulai berbicara dengan bahasa baru: efisiensi. Dunia usaha tidak lagi menilai siapa yang tumbuh paling cepat, melainkan siapa yang paling disiplin menjaga profitabilitas. Dengan kata lain, era growth at all cost atau pertumbuhan dengan segala cara, kini telah berakhir.
Beberapa raksasa teknologi dunia pun telah mengambil langkah serupa dengan melakukan efisiensi dan fokus pada bisnis inti untuk menjaga keberlanjutan jangka panjang.
🔍 Efisiensi Jadi Kunci Profitabilitas
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta Utama, menjelaskan bahwa pelaku industri kini menempatkan fokus pada bisnis inti dan pengelolaan biaya yang cermat guna mendulang performa positif, baik dari sisi kinerja keuangan maupun kepercayaan pasar.
“Efisiensi bisnis yang efektif menjadi kunci dalam menciptakan profitabilitas berkelanjutan. Dari situ, kenaikan bottom line dan apresiasi harga saham berjalan seiring,” ujar Nafan dalam keterangan tertulis, Senin (10/11/2025).
Menurutnya, tren efisiensi bukan tanda industri sedang lesu, melainkan indikasi kedewasaan ekosistem dan model bisnis sektor teknologi.
“Teknologi adalah investasi masa depan. Modal besar memang diperlukan, tapi harus digunakan dengan tepat. Efisiensi membuat emiten teknologi menjadi lebih sustain, lebih stabil, dan punya ruang untuk tumbuh secara sehat,” imbuhnya.
📊 GoTo, Bukalapak, dan Blibli Tunjukkan Arah Positif
Nafan menyebut sejumlah perusahaan digital nasional mulai menunjukkan hasil nyata dari transformasi bisnis yang berorientasi pada efisiensi.
Sebagai contoh, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mencatat kenaikan gross profit berkat fokus memperkuat gross transaction value (GTV).
Sementara itu, PT Bukalapak Tbk (BUKA) bahkan telah berhasil mencetak profit, menjadi sinyal kuat bahwa perusahaan digital Indonesia kini berada di jalur yang benar.
“Itu sinyal kuat bahwa perusahaan digital Indonesia kini on the right track,” tegasnya.
Emiten lain, PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) atau Blibli, dinilai tengah berada dalam fase yang menarik.
“Arah perusahaannya sudah benar, menjaga efisiensi sambil memperkuat ekosistem digital yang lebih luas,” kata Nafan.
Meski masih mencatatkan kerugian, Blibli melaporkan pendapatan konsolidasian kuartal III-2025 tumbuh 32% secara tahunan (yoy) menjadi sekitar Rp5,64 triliun. Secara kumulatif, pendapatan hingga September 2025 mencapai Rp15,24 triliun. Take rate Blibli juga meningkat, seiring dengan perbaikan struktur biaya perusahaan.
📈 Investor Kini Hargai Bukti, Bukan Janji
Nafan menilai, perubahan orientasi industri digital ini mencerminkan berakhirnya era pertumbuhan berbasis janji.
“Era growth at all cost sudah selesai. Sekarang pasar hanya akan menghargai perusahaan digital yang disiplin, efisien, dan mampu menunjukkan hasil konkret dalam profitabilitas,” ujar dia.
Menurutnya, fase baru ini menandai pergeseran besar dalam cara investor menilai emiten teknologi. Kapitalisasi pasar tidak lagi dibangun dari ekspektasi pertumbuhan semata, tetapi dari bukti nyata kinerja dan daya tahan bisnis.
“Bagi perusahaan seperti Blibli, masa depan kini bergantung pada kemampuan mengubah efisiensi menjadi daya tahan jangka panjang,” kata Nafan.
Ia menambahkan, Blibli masih perlu membuktikan efektivitas integrasinya dengan tiket.com sebagai bagian dari penguatan ekosistem digital grup.
“Perlu pembuktian lebih lanjut, terutama dalam hal integrasi dengan tiket.com,” tutupnya.
Dikutip dari kompas.com
