Konten Harus Berempati: Pesan Pengamat UGM untuk Pembuat Konten di Era Digital

Konten Harus Berempati: Pesan Pengamat UGM untuk Pembuat Konten di Era Digital

Pengamat sosial dari Universitas Gadjah Mada (UGM), R. Derajad Sulistyo Widhyharto, S.Sos., M.Si, menegaskan bahwa pembuat konten digital perlu mengedepankan empati dan tanggung jawab moral, terutama ketika mengangkat isu sensitif seperti kasus kriminal atau peristiwa yang melibatkan korban jiwa.

Menurut Derajad, kecepatan menyebarkan informasi di media sosial sering kali mengabaikan sisi kemanusiaan dari peristiwa yang diberitakan. Padahal, konten yang baik bukan hanya informatif, tetapi juga berperasaan.

“Ketika membahas isu-isu sensitif, pembuat konten harus mampu menyampaikan fakta tanpa melukai rasa kemanusiaan,” ujarnya di Yogyakarta, Jumat (7/11/2025).

Ia mengingatkan agar kreator konten menempatkan korban sebagai manusia, bukan sekadar objek berita atau sensasi. Karena itu, penting untuk menghindari gambar atau video yang mempermalukan korban, memperlihatkan tubuh, atau mengeksploitasi kesedihan keluarga.

Sebagai gantinya, Derajad menyarankan agar pembuat konten fokus pada pesan edukatif dan empatik, seperti pentingnya keselamatan, keadilan, dan solidaritas sosial.

“Publik tetap bisa belajar tanpa harus mengorbankan martabat seseorang,” tambahnya.

Selain visual, bahasa yang digunakan juga perlu diperhatikan. Pilih diksi yang tidak menghakimi, tidak menuding pihak tertentu, dan tetap menghormati privasi korban. Dalam kasus kriminal, narasi berimbang lebih penting daripada sekadar menonjolkan kronologi secara sensasional.

Derajad juga menyoroti fenomena media sosial yang kini menjadi ruang ekspresi identitas dan pencarian pengakuan sosial. Aktivitas membagikan foto, video, atau status bukan lagi sekadar komunikasi, tetapi juga bentuk partisipasi publik digital.

“Tantangannya bukan menolak media sosial, tapi membangun kesadaran kritis agar pembuat konten tetap otentik, bermakna, dan berempati di ruang digital,” katanya.

Menurutnya, konten berempati justru mampu membangun kepercayaan dan kredibilitas publik. Di balik setiap unggahan, ada manusia yang punya perasaan—dan di situlah nilai kemanusiaan harus dijaga.Dikutip dari antaranews.com