Menurunkan tekanan darah tinggi menjadi salah satu target kesehatan banyak orang di 2026. Selain mengonsumsi obat sesuai resep dokter, perubahan gaya hidup sehat berperan penting dalam membantu menurunkan dan mengontrol tekanan darah.
Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah sistolik di atas 140 mmHg dan diastolik di atas 90 mmHg. Sementara itu, kondisi pra-hipertensi terjadi ketika tekanan darah berada pada kisaran sistolik 120–139 mmHg dan diastolik 80–89 mmHg. Tanpa pengelolaan yang tepat, kondisi ini berisiko berkembang menjadi hipertensi.
Mengutip WebMD, salah satu langkah awal yang dianjurkan adalah menurunkan berat badan, terutama bagi mereka yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Bahkan penurunan sekitar 10 persen dari berat badan dinilai dapat memberikan dampak signifikan pada tekanan darah. Selain itu, memperkecil lingkar perut juga penting karena lemak di area perut berkaitan erat dengan risiko penyakit jantung dan hipertensi.
Olahraga teratur turut berperan memperkuat jantung dan menjaga tekanan darah tetap stabil. WHO merekomendasikan aktivitas fisik selama 150 menit per minggu atau sekitar 30 menit per hari. Di sisi lain, konsumsi garam perlu dibatasi karena natrium dapat meningkatkan tekanan darah, termasuk yang tersembunyi dalam makanan olahan.
Pola makan bernutrisi seimbang juga dianjurkan, seperti mengikuti konsep “Isi Piringku” dari Kementerian Kesehatan RI, dengan memperbanyak sayur dan buah serta membatasi makanan tinggi garam. Selain itu, membatasi alkohol, berhenti merokok, mengelola stres, dan menjaga jadwal tidur yang teratur menjadi bagian penting dari upaya pengendalian tekanan darah.
Para ahli mengingatkan bahwa perubahan gaya hidup tidak memberikan hasil instan. Namun, dengan konsistensi dan kesabaran, langkah-langkah ini tidak hanya membantu menurunkan tekanan darah, tetapi juga meningkatkan kesehatan secara keseluruhan.
Dikutip dari liputan6.com
