Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah memastikan program digitalisasi pendidikan terus diperluas agar menjangkau sekolah-sekolah terpencil di seluruh Indonesia, termasuk wilayah yang belum memiliki akses listrik maupun internet.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menegaskan pemerintah berkomitmen menghadirkan pemerataan layanan pendidikan berbasis teknologi hingga ke daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Saat melakukan kunjungan kerja di Sorong, Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa program digitalisasi telah berjalan sejak 2025 dengan skema satu sekolah satu perangkat. Pada 2026, pemerintah menargetkan peningkatan dukungan menjadi tiga perangkat untuk setiap sekolah.
Pemerintah membagi sekolah penerima program ke dalam tiga kategori. Pertama, sekolah yang telah memiliki listrik dan internet akan difokuskan pada penguatan pemanfaatan teknologi pembelajaran.
Kategori kedua mencakup sekolah yang sudah memiliki listrik namun belum terhubung internet. Untuk kelompok ini, pemerintah menggandeng Starlink guna mempermudah penyediaan akses jaringan.
Sementara itu, kategori ketiga adalah sekolah yang belum memiliki listrik maupun internet. Pemerintah tetap menyediakan konektivitas internet serta menambah dukungan listrik melalui pemasangan panel surya khusus di lingkungan sekolah.
Selain infrastruktur, Kemendikdasmen juga menyiapkan pelatihan bagi para guru agar mampu memanfaatkan perangkat digital secara optimal dalam proses belajar mengajar.
Pemerintah juga telah menyalurkan bantuan laptop ke sejumlah sekolah agar guru dapat mengunduh dan menyimpan materi pembelajaran, sehingga aktivitas belajar tidak sepenuhnya bergantung pada koneksi internet.
Menurut Abdul Mu’ti, digitalisasi pendidikan menjadi langkah strategis untuk meningkatkan mutu pembelajaran sekaligus memastikan akses pendidikan yang merata bagi seluruh siswa, termasuk mereka yang berada di wilayah terpencil Indonesia.
Dikutip dari antaranews.com
