Stella Christie mengajak generasi muda Indonesia memperkuat kemampuan berpikir kritis sebagai bekal utama menghadapi disrupsi kecerdasan artifisial (AI) dan persaingan global yang semakin ketat. Menurutnya, kemampuan mengevaluasi, mengkritisi, serta mengambil keputusan tetap menjadi keunggulan manusia yang tidak dapat digantikan oleh teknologi.
Ia menekankan bahwa penggunaan AI harus diimbangi dengan tanggung jawab dalam menilai akurasi dan relevansi informasi yang dihasilkan. Dengan jumlah pengguna internet di Indonesia yang mencapai sekitar 210 juta atau 83 persen penetrasi, peluang untuk berperan dalam perkembangan AI global dinilai sangat besar, terutama melalui pendekatan human-in-the-loop.
Karena itu, pengembangan talenta digital tidak cukup hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga perlu didukung kemampuan berpikir mendalam yang diperkuat melalui berbagai disiplin ilmu, termasuk filsafat dan ilmu sosial. Pendekatan ini diyakini mampu meningkatkan daya saing pelajar Indonesia di tingkat internasional.
Pemerintah pun telah menunjukkan hasil melalui program SMA Unggul Garuda yang mencatat peningkatan signifikan Letter of Acceptance (LoA) ke perguruan tinggi luar negeri, dari 587 pada 2025 menjadi 1.567 atau naik 167 persen. Stella pun mendorong pemuda untuk terus berkompetisi secara sehat dan memaksimalkan potensi diri demi masa depan bangsa.
Dikutip dari antaranews.com
