Jakarta – Nilai tukar rupiah melemah pada pembukaan perdagangan Selasa (29/9/2026). Rupiah turun 19 poin atau 0,11 persen ke level Rp17.997 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya sebesar Rp17.978 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) serta naiknya imbal hasil obligasi Amerika Serikat.
Analis Doo Financial Lukman Leong mengatakan tekanan terhadap rupiah masih berlanjut karena pelaku pasar mencermati arah kebijakan moneter bank sentral AS. Berdasarkan data CME FedWatch, pasar memperkirakan peluang sekitar 70 persen untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan The Fed 28 Oktober mendatang.
Pergerakan pasar tersebut juga dipengaruhi keputusan The Fed pada 16 September yang menaikkan suku bunga dan menjadi kenaikan pertama sejak 2023. Suku bunga acuan AS kini berada pada kisaran 3,75-4 persen.
Selain kebijakan The Fed, investor mencermati perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran serta sejumlah data ekonomi AS yang akan dirilis pekan ini. Data pasar tenaga kerja, termasuk laporan JOLTS, menjadi perhatian karena dapat memberikan gambaran mengenai kondisi ekonomi AS dan arah kebijakan moneter selanjutnya.
